Selasa, 12 Maret 2013

on
Assalamu'alaikum wr wb

Apa kabar sobat blogkosutho semua? semoga kita semua selalu sehat dan lapang rejeki. amiiin

Fenomena yang seringkali kita temui dalam sebuah rumah tangga, baik kita sendiri atau orang lain yang ada disekitar kita adalah cerai! nah, dalam kesempatan kali ini mari kita mengulang kembali pemahaman orang tua-tua leluhur kita dahulu, tentang wanita yang suka kawin cerai. mari.....
 
Ketika tuntutan emansipasi wanita menyeruak ke permukaan, sejak itu pula sesungguhnya menjadi pararelitas kekuasaan. Keinginan wanita untuk sederajat dengan laki-laki, lebih merupakan tuntutan kepentingan ideologis dan bersifat tidak subtansial. Mengapa? Sebab, secara kodrati harkat antara wanita dan pria memang berbeda. Masing-masing mempunyai fungsi dan peran yang berlainan. Tetapi sebagai manusia, laki-laki dan wanita memiliki martabat yang sama. Maka, sungguh tampa aneh bila wanita menginginkan kesederajatan, apalagi persamaan dalam “kekuasaan” dan fungsi. Sebaliknya, tampak semakin aneh lagi, jika laki-laki selalu berkeinginan menguasai wanita.

Kepentingan ideolegis tersebut sangat transparan dalam kebudayaan Jawa yang memandang wanita sebagai konco wingking. Wanita hanya dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas segala urusan dapur. Atau wanita dimaknai sebagai wani ditata. Berani diatur! Siapa yang mengatur? Jawabnya, tentu saja laki-laki.

Duh, betapa nestapanya nasib perempuan dalam hal ini. apalagi jika lebih jauh menengok ke belakang pada ihkwal kejadiannya. Konon,wanita itu tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri laki-laki. Bahkan dalam kisah penciptaan Adam dan Hawa, perempuan ditugaskan untuk menemani dan menghibur Adam yang kesepian di surga.

Dalam hal perkawinan pun. Wanita seperti tak memiliki peran yang menetukan dalam perceraain. Adakah cerita perempuan “menceraikan” suaminya? Kalaupun ada, tentu sangat langka dan tentu saja melalui proses yang rumit. Yang pasti ada, adalah suami yang menceraikan wanita yang menjadi istrinya.

Tetapi terlepas dari semua itu, pada kenyataannya sering dijumpai wanita yang hobi kawin cerai. Cerai dalam hal ini, bisa karena takdir (ditinggal mati oleh sang suami) atau benar-benar diceraikan sang suami karena sebab-sebab tertentu.

Dalam kultur Jawa, ada wanita yang disebut Bahulaweyan. Wanita-wanita demikian, potensial sekali ditinggal mati suaminya. Kematian sang suami pun, lebih disebabkan cacat yang dimiliki sang wanita Bahulaweyan ini sendiri. Akibatnya, setiap ditinggal mati suaminya dan kawin lagi, maka suami pengganti tak lebih dari awal kematian lelaki itu sendiri.

Dalam Ephos Ramayana disebut-sebut tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwat Diyu. Bumi mendadak terguncang hebat, ketika Dewi Sukesi ingin mengetahui tabir di balik ajaran itu. Kahyangan sebagai dunia para dewa, seperti diayun gempa dahsyat yang tak pernah terjadi sebelumnya. Duh, betapa wingit, angker, keramat, dan sakralnya Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu.
135533070656605402

Keinginan Dewi Sukesi, bak sembilu tajam yang menyayat hati Prabu Sumali. Dengan bersimpuh, sang prabu pun memohon agar putrinya mengurungkan niatnya untuk menjadikan ajaran tersebut sebagai prasyarat pernikahannya. Tetapi puteri Alengka itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya: “Aku tak akan pernah menikah, sampai ada orang yang bisa mengupas Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu!”
1355330847693154507
sarpakenaka

Dalam karya Sindhunata yang berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin”, dikisahkan suasana Negeri Alengka dengan penggamnaran sangat mencekam. Awan gelap bergumpal-gumpal menyelimuti negeri leluhur Rahwana. Giris! Kahyangan sebagai singgasana para dewa seperti hendak runtuh. Dewa-Dewi menangis.

Kisahnya pun bergulir menuju muaranya. Alkisah, lahirlah 4 anak hasil perkawinan Wisrawa-Dewi Sukesih. Mereka adalah Rahwana, Kumbokarno, Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Mereka berempat, menjadi simbol dasar sifat manusia. Keangkaramurkaan disimbolkan Rahwana, Penyesalan Kumbokarno, nafsu seks Sarpakenaka, dan kebijaksanaan serta cinta adalah Gunawan Wibisana.

Ephos Ramayana pun bagai pelajaran hidup. Beberapa candi di Jawa mendokumentasikannya dalam bentuk relief pada dinding-dinding candi. Dunia bayang-bayang dalam pewayangan itupun dicetaknya sedemikian rupa, hingga tergelar di alam nyata. Orang pun lalu mencoba mengekspresikan sosok-sosok sejumlah tokoh, berikut peranannya dalam kisah legenda, berdasarkan perawakan bentuk atau postur tubuh masing-masing tokoh itu.

Sarpakenaka adalah raksesi. Sarpa berarti ular, kenaka berati kuku. Dalam kisahnya, dia bersuamikan seorang panglima perang Keajaan Alengka yang terhormat dan sakti mandaguna: Karadusana. Tetapi segala kelebihan Karadusana itu tak mampu mengalahkan dominasi Sarpakenaka terhadap dirinya.
13553311281678622901


Ketidak pedulian Sarpakenaka sebagai isteri, dinarasikan dalam Ephos Ramayana. Betapa sang raseksi (raksasa wanita) ini jatuh cinta pada pandangan pertama, ketika bertemu Ramawijaya di hutan Dandaka. Dendamnya mendadak sirna, begitu menyaksikan ketampanan Ramawijaya yang telah menghancurkan bala tentaranya ketika merampok di pertapaan Yogisrama.

Dendam Sarpakenaka terhadap Ramawijaya mendadak berubah menjadi cemburu ketika melihat Dewi Shinta. Hasratnya untuk merengkuh hati dan cinta Ramawijaya makin besar dan mendalam saja. Dengan ajian mancala putra mancala putri, diapun merubah wujudnya sebagai seorang dewi yang cantik jelita. Kecantikannya yang bak bidadari itu digunakan untuk memperdaya Ramawijaya agar meninggalkan Dewi Shinta.

Tetapi, kesetiaan dan cinta kasih Ramawijaya terhadap Dewi Shinta tak mampu diruntuhkan dengan cara apapun. Ramawijaya yang iba melihat dewi jelmaan raseksi itu kemudian mendekatkan Sarpakenaka yang telah berubah wujud kepada adiknya, Laksmana.

Dasar haus seks, maka ketika Sarpakenaka diminta agar mendekati Laksmana, dia pun segera menemui adik Ramawijya itu. Tetapi, rupanya Laksmana adalah seorang yang waskita. Ajakan Sarpakenaka pun ditolak mentah-mentah. Penolakan Laksmana, dirasakan lebih menyakitkan dari penolakan Ramawijaya. Maka, bukan main marahnya Sarpakenaka, ketika secepat kilat Laksmana menghunus senjatanya dan langsung memangkas hidung Sarpakenaka hingga rata dengan kedua pipinya.

Sarpakenaka pun menjerit kesakitan sejadi-jadinya. Dia meraung-raung oleh rasa sakit yang tak tertahankan. Dia pun mengancam akan melampiaskan dendamnya pada Laksmana. Bersamaan dengan itu, wujudnya kembali berubah menjadi raseksi dalam keadaan kesakitan, dia mengambil langkah seribu untuk mengadukan perbuatan Laksmana kepada Rahwana dan suaminya. Karadusana.

Sosok Sarpakenaka sendiri dalam dunia pewayangan sering dinarasikan dalang sebagai seorang wanita yang berkulit hitam manis. Rambutnya lemas, dan panjang terurai. Matanya sedikit sayu, dan jika menatap pria bagai dian yang hampir kehabisan minyak dan diterpa angin sepoi-sepoi. Perawakannya pun digambarkan tinggi dan kurus. Raut wajahnya tirus. Kakinya panjang.

Wanita yang gemar berselingkuh atau kawin cerai, etrdapat ciri fisik yang bisa dijadikan tengara. Beberapa ciri tersebut, dalam primbon jawa antara lain sebagai berikut.

• Pada tengah-tengah jidatnya sedikit nonong, telingan berbalik menghadap kedepan, matanya selalu terlihat seperti habis tidur. Orang Jawa bilang, kliyip-kliyip. Mungkin, seperti lampu yang terterpa angin. Type wanita seperti ini, biasanya suka berselingkuh. Kawin cerai hingga tiga kali.

• Raut wajahnya sedikit memerah, tepian mata atas dan bawah berwarna hitam, hidung bagian atasnya ada garis-garis kecil. Wanita seperti ini tidak mempunyai rasa cinta terhadap suami. Tetapi suka sekali berselingkuh dengan pria lain yang usianya lebih tua dari sang suami.

• Jika tertawa tertunduk kepalanya, bicaranya ketus, jika mau berbicara lidahnya keluar dijilatkan ke mulut. Wanita type seperti ini, bangga sekali jika sepanjang hidupnya gonta-ganti pria. Ia sama sekali tak punya rasa malu, untuk urusan kawin cerai.

• Kulit raut wajah tampak sedikit kehijau-hijauan, dari ujung hidung dan jidat terdapat urat kebiru-biruan, mata ciut gelap suka berkedip. Wanita jenis ini mudah sekali jatuh cinta, bahkan kalau sudah jatuh cinta tanpa perasaan dan siap-siap mencelakakan suaminya.

• Mata besar dan lebar, bak mat ikan emas. Hati-hati dengan wanita type ini, dengan perselingkuhannya yang tak pernah puas dengan berbagai jenis pria, sehingga akan berdampak kematian lebih dahulu bagi sang suami tercinta.

• Kedua pipinya tembem gembil, suaranya seperti lelaki. Wanita ini sekalipun biasa menjalani perselingkuhan dengan pria lain yang lebih muda, ia gemar melakukan kawin cerai.

• Jidatnya nonong sekali, namun hanya pada bagian tengahnya, lancip daun telinganya dan mungil berbalik menghadap kedepan. wanita dengan ciri demikian suka sekali menikmati perselingkuhan dan terus saja berkeinginan kawin cerai demi mendapatkan kepuasan batinnya.

Ciri-ciri diatas adalah sebuah penggambaran sosok-sosok dalam katuranngan wanita yang gemar berselingkuh. Tanpa mengajak pembaca untuk mempercayai mitos di balik ciri fisik yang digambarkan Primbon Jawa tersebut, tetapi lebih kepada sedikit mengenal khazanah kepercayaan yang ada ditengah kehidupan bermasyarakat. Khusunya orang Jawa. Ojok sampek lali Jawane…matur nuwun…
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

BlogRoll

DMCA.com